Kamis, 13 Agustus 2009

PAUD Nurhidayah Rekrut Siswa Tak Mampu


WARGA perkampungan hingga kini masih mengalami kesulitan untuk memperoleh pendidikan. Pasalnya, sarana pendidikan di sana masih relatif sedikit. Untuk itu dianggap perlu adanya peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di daerah pedesaan yang masih jauh ke perkotaan.


Melihat kondisi begitu, Yayasan Nurhidayah telah berhasil membentuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang bertempat di Kampung Pananggayan Kaler RT 12/4 Desa Tajursidang Kec Sukatani Purwakarta. PAUD tersebut mengumpulkan anak-anak tidak mampu untuk diberikan pendidikan. Wajar jika keberadaan PAUD Nurhidayah mengundang antusias warga.


Pengelola PAUD Nurhidayah, Ami Nurhayati, Minggu (9/8) mengaku, prihatin dengan kondisi warga di daerah tersebut. Dari tiga desa yang ada di sana yaitu Desa Tajursidang, Sindanglaya, dan Panyindangan belum mendapat pelayanan pendidikan secara maksimal. Terutama bagi para anak-anak usia dini.


“Jangankan PAUD, dari tiga desa ini baru ada satu SMP. Sedangkan SMA tidak ada. Sehingga warga di sini harus menyekolahkan anak-anaknya ke kota. Apalagi sekolah anak usia dini. Untuk itu saya mendirikan PAUD ini untuk memberikan kemudahan bagi warga untuk mendidik anak-anaknya,” ujar Ami.


Disebutkannya, secara mayoritas penduduk di desa tersebut dalam kondisi miskin. Rata-rata mereka berpenghasilan dibawah rata-rata. Dengan begitu, PAUD Nurhidayah memfasilitasi masyarakat tidak mampu untuk ikut belajar di sekolah itu. “Mereka yang tidak mampu, kami akan bantu. Bukan hanya mendapat pendidikan, tapi mereka juga mendapat bantuan alat-alat sekolah juga,” ungkapnya.


Ami menerangkan, PAUD Nurhidayah didirikan pada 13 Januari 2009 lalu. Pada tahun ajaran pertama, pengelola berhasil menerima siswa sebanyak 20 orang. Sebagain besar dari mereka berasal dari keluarga tidak mampu. “Siswanya kami batasi. Tahun sekarang kami hanya terima 20 anak. Karena khawatir kami tidak bisa membiayainya,” keluhnya.


Untuk itu, pihaknya berharap kepada semua pihak termasuk pada pemerintah dan para donatur untuk ikut berperan aktif dalam membantu pendidikan bagi masyarakat dipedesaan. Karena dengan bantuan tersebut, beban biaya pendidikan bagi masyarakat pedesaan akan terbantu.


Ia menilai, selama ini masyarakat pedesaan lebih memilih tidak menyekolahkan anak-anaknya dibandingkan harus memaksakan diri untuk membiayai sekolah. Apalagi biaya sekolah kerap didengar membutuhkan biaya yang cukup tinggi. “Tetap saja warga desa itu belum merasakan sekolah gratis. Mereka tetap harus mengeluarkan uang untuk sekolah anaknya,” keluh Ami.****

2 komentar:

Cantik mengatakan...

Bravo's PAUD Nurhidayah

Cantik mengatakan...

Luar Biasa... salut deh