Rabu, 19 Agustus 2009

Pendidikan Gratis Hanya Bualan Belaka


NYATANYA, kondisi pendidikan kali ini masih sangat memprihatinkan. Faktanya, tak sedikit warga di Purwakarta yang belum mengenyam pendidikan usia dini. Sementara program pemerintah yang mencanangkan pendidikan gratis hanya bualan belaka. Buktinya, warga masih merasakan beban biaya pendidikan yang cukup mahal.


Gambar inilah sebuah bukti anak yang menerima pendidikan itu. Namanya Tantri (3) anak warga Kp Ciraharja RT 21/11 Desa Pasawahan Kec. Pasawahan Purwakarta. Tantri memang dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Kedua orang tuanya yakni Suryadi (45) dan Seem (35) setiap harinya hanya berprofesi sebagai pemulung sampah. Wajar jika orang tua itu tak bisa menyekolahkan anak-anaknya.


Keluarga Suryadi dan Seem itu hidup di lingkungan dengan penduduk sekitar 30 kepala keluarga. Ditambah lagi lingkungan itu belum mendapat perhatian pemerintah. Faktanya, sejumlah fasilitas umum seperti pemandian warga, Mandi Cuci Kakus (MCK) dan tempat ibadah masih dalam kondisi tak layak. Akibatnya kondisi ekonomi yang menyulitkan bagi keluarga Suryadi kurang begitu terperhatikan.


Untungnya, gubuk ukuran sekitar 3 x 5 meter yang dibuat warga sekitar telah berhasil membantu keluarga Suryadi berteduh. “Bukan karena warga tidak kasihan dengan hidup keluarga Pak Suryadi. Kami sebenarnya ingin membantu mereka. Kami baru bisa bantu membangun gubuknya saja melalui gotong royong,” ujar Ketua RT 21 Desa Pasawahan, Anen, Minggu (18/8) di rumahnya.


Sementara ini, warga mengaku tidak bisa membantu keluarga Suryadi sampai pada pendidikan anak-anaknya. Karena mereka pun memiliki keterbatasan hidup yang masih dalam kodisi pas-pasan. “Warga tak bisa bantu untuk pendidikan anaknya. Karena warga juga harus mencukupi kebutuhannya masing-masing,” terangnya.


Bukan hanya Tantri yang belum mengenyam pendidikan usia dini. Tetapi kedua kakaknya pun yakni Pajri (13) dan Mutiara (7) sama sekali tidak bersekolah. Kedua anak itu, kini malah mengikuti ayah dan ibunya bekerja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Cikolotok. Sehingga keluarga itu sangat jauh dengan yang namanya pendidikan.


Sementara itu, Anggota Fraksi Golkar DPRD Purwakarta, Ucok Ujang Wardi, mengaku prihatin dengan kondisi anak seperti itu. Pihaknya menginginkan anak-anak di usia belajar ini semua bisa bersekolah. Apalagi dengan adanya program pendidikan gratis yang sering digembor-gemborkan pemerintah.


“Kami sangat prihatin sekali. Sisi lain pemerintah sudah mencanangkan pendidikan gratis, disisi lain pula masih banyak anak-anak seperti ini,” ungkapnya. Untuk itu, persoalan ini menjadi perhatian semua pihak. Termasuk pengawasan dari Dinas Pendidikan yang harus dilakukan secara maksimal. “Jangan sampai terjadi anak tidak sekolah begini,” lanjut dia.****

1 komentar:

Cantik mengatakan...

stuju banget... mana janji mu... program pendidikan gratis hanya bohong saja